Senin, 26 November 2012


NEGOSIASI


Pendahuluan
            Negosiasi adalah salah satu instrument penting dalam diplomasi. Negosiasi merupakan alat yang digunakan dalam penyelesaian konflik internasional. Dalam tulisan ini akan menjelaskan mengenai definisi negosiasi dan teknik-teknik negosiasi yang penulis ambil dari berbagai referensi yang relevan.

Pembahasan
            Adam Watson (1982) mengkarakteristikkan hubungan diplomasi sebagai negosiasi-negosiasi antarkesatuan politik yang mana keduanya diketahui  bersifat independen. Itu artinya sesuai dengan pernyataan G.R. Berridge bahwa kegiatan dalam hubungan internasional lebih kepada negosiasi ketimbang paksaaan, propaganda, atau permasalahan hukum atau melalui berbagai alat-alat perdamaian yang nantinya secara langsung dan tak langsung mengarah dalam kegiatan negosiasi.
Dalam jurnal yang berjudul The Nature of Negotiation juga dijelaskan bahwa terdapat perbedaan antara negosiasi dan bargaining. Bargaining mendeskripsikan iklim kompetitif, situasi win-lose, flea market, dan semacamnya. Sementara dalam term negosiasi lebih kepada situasi win-win.
Macam-Macam Negosiasi
Secara umum, berdasarkan berlangsungnya proses negosiasi ada dua macam negosiasi:
1.      Negosiasi kooperatif merupakan jenis negosiasi dimana konflik dapat diminimalisir dan seluruh gagasan yang ada difokuskan pada tujuan untuk mencapai solusi yang terbaik bagi semuanya. Sifat dari negosiasi ini anatar lain: membuka informasi seluas-luasnya, mempertimbangkan sejumlah alternatif, fleksibel, membantu pihak lainnya dalam menyampaikan gagasan, dan keputusan bersifat win-win solution.
2.      Negosiasi kompetitif merupakan negosiasi di mana terjadi suasana tidak ramah sebab masing-masing pihak berusaha mendapatkan tawaran yang lebih baik dari lainnya. Oleh karenanya dalam situasi negosiasi tersebut diperlukan seni dalam menyatakan penawaran terbuka serta keterampilan dalam mendiginkan situasi konflik serta bersikap tegas dalam menjaga posisi pengendali.
Namun dalam prakteknya, hampir semua negosiasi yang terjadi merupakan kombinasi dari dua macam negosiasi di atas.


Negosiasi terjadi dengan beberapa alasan, diantaranya: untuk membuat persetujuan mengenai bagaimana berbagai atau menentukan sumber daya yang terbatas, seperti tanah, properti, atau waktu, untuk menciptakan ‘sesuatu yang baru’ yang mana suatu negara tidak mampu menciptakannya seorang diri dan untuk menyelesaikan masalah atau pertikaian antarnegara.
Kendati sebagian besar manajemen konflik menemukan resolusinya melalui negosiasi, terdapat beberapa situasi yang menghindari adanya proses negosiasi (J.V. Levinson, Smith, dan Wilson, 1999):
1.      When you’d lose the farm. Kondisi yang mengancam untuk kehilangan segalanya.
2.      When you’re sold out. Ketika mengalami suatu kesulitan dalam bernegosiasi.
3.      When the demands are unethical. Ketika pihak lawan meminta dukungan pada sesuatu yang ilegal, tidak etis, dan tidak bermoral. Ini demi menjaga reputasi.
4.      When you don’t have time. Ketika seorang penegosiasi mengalami tekanan waktu ia akan bertindak jauh lebih tidak bijaksana ketimbang biasanya.
5.      When they act in bad faith. Menghentikan negosiasi ketika lawan menunjukkan etiket buruk dan tidak dapat dipercaya.
6.      When waiting would improve your position. Ketika menunggu memberi kemungkinan untuk meningkatkan posisi.
7.      When you’re not prepared. Saat tidak siap bernegosiasi akan lebih baik melakukan negosiasi jika telah siap.
Dengan kata lain, terkadang negosisasi pun harus dihindari dengan beberapa alasan diatas. Apabila negosiasi masih tetap dilaksanakan, justru akan menghancurkan diri sendiri.

Taktik dalam Negosiasi
            Dalam bernegosiasi dibutuhkan taktik-taktik tertentu yang sering dilakukan oleh para negosiator. Berikut ini ada Sembilan taktik yang digunakan dalam negosiasi.[1]
1.      Mengeryit ( The Wince )
Taktik ini dikenal juga dengan istilah Terkejut ( Flinch ) merupakan reaksi negatif terhadap tawaran seseorang. Taktik ini digunakan apabila negosiasi berada pada posisi menguntungkan pihak lawan.
  1. Berdiam ( The Silence )
Taktik ini digunakan apabila negosiator tidak suka dengan tawaran pihak lawan. Tidak banyak orang yag mampu bertahan dalam kesunyian panjang sehingga dengan begitu, pihak lawan akan memberikan konsesi atau kelonggaran.


  1. Ikan Haring Merah ( Red Herring )
Istilah ini diambil dari kompetisi tua di Inggris, Berburu Rubah ( Fox Hunting Competition ). Dalam kompetisi ini, tim lawan akan menyeret dan membaui jejak rubah ke arah lain dengan ikan. Sehingga, anjing lawan akan terkecoh dan kehilangan jejak. Sama halnya saat negosiator membawa "ikan amis" atau isu lain ke meja perundingan untuk mengalihkan perhatian dari isu utama bahasan.
  1. Kelakuan Menghina ( Outrageous Behaviour )
Segala bentuk perilaku - biasanya dianggap kurang bermoral dan tidak dapat diterima oleh lingkungan- dengan tujuan memaksa pihak lain untuk setuju. Seperti pihak manajemen muak dengan tuntutan yang dianggap tidak masuk akal dan terpaksa menandatangi kontrak dengan air mata kemudian membuangnya secara ganas dan dramatis seolah - olah diliput oleh media. Tujuan dari taktik ini adalah untuk menggertak orang - orang yang terlibat dalam negosiasi.
  1. Yang Tertulis ( The Written Word )
Adalah persyaratan ditulis dalam perjanjian yang tidak dapat diganggu gugat. Perjanjian, sewa guna usaha ( leasing ), atau harga di atas pahatan batu dan sekarang di kertas ( uang ) adalah contoh - contoh Yang Tertulis.
  1. Pertukaran ( The Trade-off )
Taktik ini digunakan untuk tawar - menawar. Pertukaran hanya menawarkan konsesi, sampai semua pihak setuju dengan syarat - syarat. Sebenarnya, taktik ini dipakai untuk kompromi.
  1. Ultimatum ( The Ultimatum )
Penggunaan ultimatum kadang-kadang ( seldom ) efektif sebagai taktik pembuka dalam negosiasi. Namun, suatu saat dalam sebuah negosiasi yang panjang saat Anda merasa Anda perlu menggunakan taktik ini.
  1. Berjalan Keluar ( Walking Out )
Pada beberapa situasi, berjalan keluar dapat digunakan sebagai strategi untuk memberikan tekanan pada pihak lain.
  1. Kemampuan untuk Mengatakan "Tidak" ( The Ability to Say "No" )
Sebuah taktik memepang peran sangat penting dalam segala macam strategi negosiasi dan cara menyampaikannya secara tepat. Pertama dan paling dasar untuk mempelajari taktik ini adalah bahwa apa pun bila mengatakan 'tidak' secara langsung, diterjemahkan oleh pihak lain sebagai 'ya'.



Simpulan
Negosiasi adalah sebuah bentuk interaksi sosial saat pihak - pihak yang terlibat berusaha untuk saling menyelesaikan tujuan yang berbeda dan bertentangan. Menurut kamus Oxford, negosiasi adalah suatu cara untuk mencapai suatu kesepakatan melalui diskusi formal. Negosiasi merupakan proses tawar-menawar secara langsung antara dua pihak atau lebih, untuk mencapai tujuan tertentu. Negosiasi merupakan salah satu alat dalam penyelesaian konflik internasional. Cara penyelesaian konflik yang pertama kali dilakukan adalah negosiasi. Ketika negosiasi tidak berhasil dalam diplomasi, maka akan dilakukan diplomasi dengan cara lain yang mungkin lebih keras.

Referensi

Dolan, Patrick John. Smart Negotiating: It’s a Done Deal. 2006. Canada. Entrepreneur Press.

Seng, Joo Seng; Elizabeth, Ngah-Kiing Lim. Strategies for Effective Cross – Cultural Negotiation: The FRAME Approach. 2004. Singapore. McGrawHill.

Watson, Adam. 1982. Diplomacy: The Dialogue Between States. London: Eye Methuen.

Zartman, I. William. 2008. Negotiation and Conflict Management: Essays on theory and practice. New York: Routledge Handbook Publishing

———. The Nature of Negotiation



[1] Dolan, Patrick John. Smart Negotiating: It’s a Done Deal. 2006. Canada. Entrepreneur Press. Hal 96-106

0 komentar:

Posting Komentar